Pagi
ini aku udah berfirasat buruk. Ntah apa yang sedang ku pikirkan, tapi yang
jelas aku akan terlambat menuju kampus untuk rapat proker dengan DPM, atau
bahkan lebih telat dari yang ku duga.
Sejam
kemudian baru aku sadari bahwa aku sangat-sangat terlambat.
Awalnya
aku telah berencana untuk absen pada rapat ini, disebabkan keharusan untuk
membuat laporan praktikumku di keesokan harinya. Tahukah kalian berapa lama
mengetik laporan praktikum ini?. aku harap kalian tidak berpikir kalau aku
mengetiknya di laptop atau bahkan di komputer. Jauh lebih buruk dari itu, di
tempat yang amat menyusahkan jari-jariku. Tidak seperti aku sedang mengetik
kisahku di keyboard yang lincah dan simple, tetapi di keyboard yang amat
monoton, kusam, berdebu, masing-masing tombolnya amat sukar di tekan sehingga
tak jarang aku harus mengurut sendiri jari-jemariku karena sangking kerasnya.
Aku butuh tenaga EXTRA untuk mengerjakan pekerjaan yang sangat tidak efisien
ini. Kau bisa menyebutnya “mesin tik Ala
jadul”. Tapi jangan salahkan aku bila meyebutnya mesin pembasmi jari-jemari. Jangan pula tanya aku mengapa ia ku
beri nama demikian.
Proker
itu belum lagi ku print, karena aku telah sepenuhnya mengharapkan bantuan dari
Sekum (sekretaris umum). Dengan mata yang masih setengah bangun, langsung ku
hubungi beliau agar memprintkannya untukku. Di via telpon “assalamu’alaikum,
kak, bisa bantu aku?”. “wa’alaikumussalam, ada apa dek?”. “kak, fara ga bisa
hadir rapat hari ini kak, di karenakan mengerjakan laporan praktikum yang harus
di kejar untuk besok pagi. Kakak pasti tau kan berapa abad mengerjakan laporan
di atas mesin pembasmi jari-jemari?”. Beliaupun menjawab yang ku pikir akan mengindahkan
permintaanku “ga bisa dek, hadir aja dulu, kalau bidang kalian sudah di acc oleh DPM maka silahkan untuk izin,
belum lagi proker sudah harus di print oleh masing-masing sekretaris, sudah di
print kan?” Tanya beliau seakan-akan mempercayai amanah yang telah di tugaskan
kepadaku. Seandainya beliau mengetahui bahwa aku justru mengharapkan
bantuannya. “kak, fara malah nitip minta di print-kan oleh kakak sebagai sekum.
Tolong ya kak, please”. “waduh, kakak juga sedang ada keperluan dek, gimana
minta bantuan dengan akhwat disana?” . kalimat terakhir ini yang amat
menjatuhkan semangatku, mudah-mudahan beliau tidak membaca isi blog ku hari
ini, atau kalau tidak , aku akan di cekik oleh beliau. (peace,,sista).
Bergegas
aku mengerjakan semuanya dalam satu waktu, mulai dari ngeprint,memakai jilbab,
bersolek, dan segala keperluan yang menyangkut kegiatan rutinku di hari minggu.
Sejam penuh sedang ku jalankan untuk mem—pirintnya, sementara bunyi handphone
berdering dua menit sekali, menanyakan posisiku sudah dimana. Fiuh…yang ku
harapkan bukanlah menanyakan aku sedang dimana, tapi tanyakanlah apakah aku
sehat-sehat saja, karena keadaan darurat ini justru membuat jantungku berpacu
drastis. Mudah-mudahan kali ini aku tidak terserang serangan jantung, atau
perutku mules lagi. Semenit kemudian, tiga puluh detik kemudian, lima belas
detik kemudian, sepuluh detik kemudian, lima detik kemudian, satu detik
kemudian, dan yeess!! Berhasil!! Akhirnya semua proker dan kalender proker
selesai sudah. Ku persiapkan semua kebutuhan yang mungkin mendukung kelancaran
tugas ku hari ini. print di kembalikan ke asalnya, laptop, kertas HVS, pulpen,
buku. Opz, sepertinya aku tidak akan membawa buku “MY STUPID BOSS” kali ini,
karena ku pikir rapat ini tidak membutuhkan buku bacaan yang tidak berkaitan
dengan tema buku tersebut. Hem…kadang aku berharap bisa bertemu dengan
pengarangnya, karena di buku bacaan tersebut tidak di pampangkan siapa
pengarangnya. Aku hanya menyebut beliau si “sang cerpenis gokil”. Hem…maaf
pemirsa, kadang aku juga merasa susah dan berusaha menyingkirkan sifat ini,
pola pikir yang terlalu divergen. Inilah susahnya memiliki imajinasi yang
bercabang-cabang, sehingga jika hendak menulis, maka tak jarang aku pasti
melompat ke link-link lain. Aku berharap para pembaca bersabar.
Akhirnya
siap sudah semuanya. Maksudku selesai sudah. Fiuh…bergegas aku menuju kampus,
lokasinya di kafe fisika, eh..tidak, di gedung F2.3, opz..bukan, di gedung
F2.1, waduh salah lagi, dimana yah??? .
“AHAaa…!!!”
di local 2.1 gedung F. *samaajakalichef?!!.../. cepat-cepat ku langkahkan kaki
ku bagai jalan seekor kura-kura. Hem.. aku pikir itu terlalu cepat. Benar ‘kan
kata ku?. Sang kura-kura adalah seekor binatang yang amat cepat berlari,
maksudku berjalan ketika berlomba dengan seekor kelinci yang berlari dengan
gesitnya. Ingat tidak film upin dan
ipin???. aku harap kalian sudah dewasa sehingga tidak perlu membahas kisah
anak kecil kembar yang bersuka ria dengan teman-teman di Taman Kanak-kanak.
Karena jika kalian belum sedikitpun menonton acara televisi hasil koleksiku
ini, maka aku dengan senang hati menceritakannya untukmu, apalagi kisah si spongebob squarpants. Kita akan
bercerita panjang lebar , sampai tak tidur semalaman khusus mengisahkan
ceritanya.
Berjalan,
berjalan, di bawah terik matahari yang amat menyengat, melintasi perlintasan
jalan raya, melirik ke kiri, disana tampak anak-anak kecil sedang bersuka ria
bermain, ada yang bermain sepeda, bermain karet bagi anak perempuan, sesekali
anak laki-laki mengganggu permainan perempuan yang sedang asyiknya bermain, ada
juga bagi mereka sedang duduk di bawah pohon beringin, ada sekitar dua atau
tiga anak asyik nongkrong disana. *Hem…Chef, kalimat tepatnya itu berteduh/.
Aku melihat mereka, namun kakiku juga tak hentinya berproses untuk melangkah.
Ku lihat mereka yang sedang berteduh di pohon depan kost ku. *Chef masih baru
berjalan di depan kost, Hem.. perjalanan yang cukup panjang bagi Chef/.
Sesampainya
di tempat umum, maksudku di lokasi selanjutnya, Yupz…di halte. Seorang Bus, eh
sebuah bus sedang menunggu Chef untuk menaikinya. Sungguh merupakan kehormatan
bagi bus, apalagi sang supir melihat sang Chef menaiki bus
mereka.*tothepointajachef/. Pas menaiki bus, aku melihat seorang wanita memakai
pakaian yang hampir sama denganku, dengan warna yang juga sama, mulai dari atas
sampai bawah, perfect! Bahkan jika di lihat sekilas, orang-orang akan mengira
aku dan wanita itu adalah kembar. Hem..bisa kalian tebak dia siapa. Sang
KAKAK!!. Kenapa harus kebetulan sama, di bus yang sama, dengan fashion yang
sama pula. Aku pun menanyakannya “ada agenda apa?” “rapat proker kalian. Aku
‘kan pengurus DPM” jawabnya. Oh my god! Aku baru menyadari bahwa dia salah satu
anggota di DPM. Tak terkejut diriku dengan hal ini kedua kalinya. Yang ku
khawatirkan adalah apa tanggapan orang-orang yang ada disana jikalau melihatku
dengannya berjalan berduaan. Pasti mikirnya gini “cie…kakak adik jalan bareng” , “wuich, janjian niyee,,bajunya sama” ,
“janjian telat nich..kompak banget sekeluarga”, atau gini “si kembar datang..si kembar datang…”. Itu tuh..yang sering ngegodain. Padahal
menurutku ga mirip kok. SAMA SEKALI TIDAK KEMBAR. Kami Cuma beda satu tahun.
INGAT! SATU TAHUN!. Fiuh…kenapa ayah menyuruhku kuliah di padang dulunya
yah…???.
Sesampainya
di lokasi, jangan Tanya lagi! Kalimat-kalimat yang baru saja ku paparkan
sebelumnya langsung teraplikasikan. SUKSES! Mudah-mudahan aku dapat Nobel
karena risetku meramalkan pikiran orang berhasil. Yes!! L
Dengan
wajah setengah merah setengah pucat, aku dan kakakku duduk dengan masing-masing
tempat. Di sebelah kiri pengurus BEM, di sebelah kanan pengurus DPM. Kami
berpencar.
Fiuh..baru
saja mulai. Proker yang sedang bahas itu baru Kestari. Aku masih bisa sedikit
tenang. Karena rute pembahasan Kestari dengan bidang Eksternal masih
berlangsung lama.
Semenit
kemudian, sepuluh menit kemudian, lima belas menit kemudian, setengah jam
kemudian, sejam kemudian, daaannn…..teng..teng…!!! waktu habis. Saatnya
membahas proker bidang lain. Tapi ada sedikit masalah. dua bidang yang memiliki
masing-masing proker mulai kucar-kacir. Bawaannya ga tenang, seakan sedang di
kejar masalah atau di kejar anjing. Fiuh..aku harap tidak di kejar
kedua-duanya. Tapi mereka memang mengadapi kesulitan yang amat mendesak. Entah
apa, aku juga ga’ ngerti. Tapi yang jelas mereka seperti sedang kepanasan.
Oh..bukan chef, salah ente. Yang bener itu mereka bergulat memperebutkan
pembahasan prokernya di percepat. Atau kalau boleh bidang mereka di dahulukan
terlebih-lebih, di sebabkan alasan yang ku pikir amat logis. *Agenda mingguan/.
Tapi tidak tau kalau bidang yang satunya lagi. Mereka berdebat untuk
memperebutkan pembahasan prokernya didahulukan. Aku baru mulai sadar kalau aku
juga sedang tergesa-gesa. Perutku mulai mules lagi. Padahal selembarpun belum
ada noda yang tertera di kertas putihku. Oh god..!! mudah-mudahan jari-jariku
bisa membalap secepat Valentino Rossi.
Ngomong-ngomong bagaimana kabar beliau yah??. Aku sudah lama tidak menyaksikan
acaranya di F1. Maklumi saja kondisi para anak kost, memiliki kasur dan meja
belajar yang aku pikir itu lebih dari cukup.
Sejam
kemudian berlangsung, teng..teng…akhirnya pembahasan proker kami.*bidang
Eksternal maksudnya/. Aku mulai menutup laptopku, karena dari tadi aku juga
sibuk berkolaborasi suara dengan keyboard laptopku. Opz, ku akui aku menulis
kisahku ini di lokasi, yah….kondisi yang sedang berlangsung. Mudah-mudahan para
pengurus BEM ataupun DPM, apalagi kakakku tidak membaca entri ku ini, karena
Ini adalah kisah nyataku di pagi buta, di siang yang sengat, di sore yang
mendung, di malam yang dingin.
Satu
persatu di bahas proker kami oleh sang DPM. Kesalahan demi kesalahan di
komentari. Inilah resiko kenapa Gubernur dan wakil gubernur dulu mewancarai aku
ketika OR (Open Requitment) dan menanyakan dimana keinginanku di tempatkan
nanti. Ketika ku sebutkan PSDM, tetapi kenyataannya di Eksternal. Iya juga sich
salah Chef sendiri ketika di tanya “Bila
fara di tempatkan di bidang lain, apakah bersedia?” dengan gagah dan
yakinnya aku menjawab “SIAP!!”. Nah..inilah
hasil ucapanku enam bulan yang lalu. Aku pikir aku lebih baik di bidang INFO
untuk kepengurusan tahun depan, karena melihat hobiku yang suka tulis-menulis,
ku pikir karya ku bakalan di baca di madding BEM. *mungkin/.
Yah…ini
baru setengah hari. aku belum mengisahkan 6 jam berikutnya . aku hanya berharap
yang membaca ini bukanlah orang yang bersangkutan. Kalaupun iya, anggap saja
kalian tidak mengenaliku. Itu lebih dari cukup untuk menyelamatkanku.
Dan sayang sekali, saya tidak mengikuti rapat itu
BalasHapushahahaaa..... kalian kembar ya?
BalasHapusOh God,,,, kakak adik-adik kakak...
hehehe....
BalasHapus