FARADIBAH


Do You Know Me ???

Foto saya
padang, sumatera barat, Indonesia
BERBURUH BUKU, MENYANTAP SAJIAN BAB BUKU, MELAHAP ARTIKLE, MENCICIPI CERPEN DAN NOVEL, NGEBROWSING TIPS AND TRIK SOMETHING, itulah Ane, Sang Chef
AHLAN WA SAHLAN ^_^

Traffic

Minggu, 16 Oktober 2011

BEM...Oh..DPM


Pagi ini aku udah berfirasat buruk. Ntah apa yang sedang ku pikirkan, tapi yang jelas aku akan terlambat menuju kampus untuk rapat proker dengan DPM, atau bahkan lebih telat dari yang ku duga.
Sejam kemudian baru aku sadari bahwa aku sangat-sangat terlambat.
Awalnya aku telah berencana untuk absen pada rapat ini, disebabkan keharusan untuk membuat laporan praktikumku di keesokan harinya. Tahukah kalian berapa lama mengetik laporan praktikum ini?. aku harap kalian tidak berpikir kalau aku mengetiknya di laptop atau bahkan di komputer. Jauh lebih buruk dari itu, di tempat yang amat menyusahkan jari-jariku. Tidak seperti aku sedang mengetik kisahku di keyboard yang lincah dan simple, tetapi di keyboard yang amat monoton, kusam, berdebu, masing-masing tombolnya amat sukar di tekan sehingga tak jarang aku harus mengurut sendiri jari-jemariku karena sangking kerasnya. Aku butuh tenaga EXTRA untuk mengerjakan pekerjaan yang sangat tidak efisien ini.  Kau bisa menyebutnya “mesin tik Ala jadul”. Tapi jangan salahkan aku bila meyebutnya mesin pembasmi jari-jemari. Jangan pula tanya aku mengapa ia ku beri nama demikian.
Proker itu belum lagi ku print, karena aku telah sepenuhnya mengharapkan bantuan dari Sekum (sekretaris umum). Dengan mata yang masih setengah bangun, langsung ku hubungi beliau agar memprintkannya untukku. Di via telpon “assalamu’alaikum, kak, bisa bantu aku?”. “wa’alaikumussalam, ada apa dek?”. “kak, fara ga bisa hadir rapat hari ini kak, di karenakan mengerjakan laporan praktikum yang harus di kejar untuk besok pagi. Kakak pasti tau kan berapa abad mengerjakan laporan di atas mesin pembasmi jari-jemari?”. Beliaupun menjawab yang ku pikir akan mengindahkan permintaanku “ga bisa dek, hadir aja dulu, kalau bidang kalian sudah di acc oleh DPM maka silahkan untuk izin, belum lagi proker sudah harus di print oleh masing-masing sekretaris, sudah di print kan?” Tanya beliau seakan-akan mempercayai amanah yang telah di tugaskan kepadaku. Seandainya beliau mengetahui bahwa aku justru mengharapkan bantuannya. “kak, fara malah nitip minta di print-kan oleh kakak sebagai sekum. Tolong ya kak, please”. “waduh, kakak juga sedang ada keperluan dek, gimana minta bantuan dengan akhwat disana?” . kalimat terakhir ini yang amat menjatuhkan semangatku, mudah-mudahan beliau tidak membaca isi blog ku hari ini, atau kalau tidak , aku akan di cekik oleh beliau. (peace,,sista).
Bergegas aku mengerjakan semuanya dalam satu waktu, mulai dari ngeprint,memakai jilbab, bersolek, dan segala keperluan yang menyangkut kegiatan rutinku di hari minggu. Sejam penuh sedang ku jalankan untuk mem—pirintnya, sementara bunyi handphone berdering dua menit sekali, menanyakan posisiku sudah dimana. Fiuh…yang ku harapkan bukanlah menanyakan aku sedang dimana, tapi tanyakanlah apakah aku sehat-sehat saja, karena keadaan darurat ini justru membuat jantungku berpacu drastis. Mudah-mudahan kali ini aku tidak terserang serangan jantung, atau perutku mules lagi. Semenit kemudian, tiga puluh detik kemudian, lima belas detik kemudian, sepuluh detik kemudian, lima detik kemudian, satu detik kemudian, dan yeess!! Berhasil!! Akhirnya semua proker dan kalender proker selesai sudah. Ku persiapkan semua kebutuhan yang mungkin mendukung kelancaran tugas ku hari ini. print di kembalikan ke asalnya, laptop, kertas HVS, pulpen, buku. Opz, sepertinya aku tidak akan membawa buku “MY STUPID BOSS” kali ini, karena ku pikir rapat ini tidak membutuhkan buku bacaan yang tidak berkaitan dengan tema buku tersebut. Hem…kadang aku berharap bisa bertemu dengan pengarangnya, karena di buku bacaan tersebut tidak di pampangkan siapa pengarangnya. Aku hanya menyebut beliau si “sang cerpenis gokil”. Hem…maaf pemirsa, kadang aku juga merasa susah dan berusaha menyingkirkan sifat ini, pola pikir yang terlalu divergen. Inilah susahnya memiliki imajinasi yang bercabang-cabang, sehingga jika hendak menulis, maka tak jarang aku pasti melompat ke link-link lain. Aku berharap para pembaca bersabar.
Akhirnya siap sudah semuanya. Maksudku selesai sudah. Fiuh…bergegas aku menuju kampus, lokasinya di kafe fisika, eh..tidak, di gedung F2.3, opz..bukan, di gedung F2.1, waduh salah lagi, dimana yah??? .
“AHAaa…!!!” di local 2.1 gedung F. *samaajakalichef?!!.../. cepat-cepat ku langkahkan kaki ku bagai jalan seekor kura-kura. Hem.. aku pikir itu terlalu cepat. Benar ‘kan kata ku?. Sang kura-kura adalah seekor binatang yang amat cepat berlari, maksudku berjalan ketika berlomba dengan seekor kelinci yang berlari dengan gesitnya. Ingat tidak film upin dan ipin???. aku harap kalian sudah dewasa sehingga tidak perlu membahas kisah anak kecil kembar yang bersuka ria dengan teman-teman di Taman Kanak-kanak. Karena jika kalian belum sedikitpun menonton acara televisi hasil koleksiku ini, maka aku dengan senang hati menceritakannya untukmu, apalagi kisah si spongebob squarpants. Kita akan bercerita panjang lebar , sampai tak tidur semalaman khusus mengisahkan ceritanya.
Berjalan, berjalan, di bawah terik matahari yang amat menyengat, melintasi perlintasan jalan raya, melirik ke kiri, disana tampak anak-anak kecil sedang bersuka ria bermain, ada yang bermain sepeda, bermain karet bagi anak perempuan, sesekali anak laki-laki mengganggu permainan perempuan yang sedang asyiknya bermain, ada juga bagi mereka sedang duduk di bawah pohon beringin, ada sekitar dua atau tiga anak asyik nongkrong disana. *Hem…Chef, kalimat tepatnya itu berteduh/. Aku melihat mereka, namun kakiku juga tak hentinya berproses untuk melangkah. Ku lihat mereka yang sedang berteduh di pohon depan kost ku. *Chef masih baru berjalan di depan kost, Hem.. perjalanan yang cukup panjang bagi Chef/.
Sesampainya di tempat umum, maksudku di lokasi selanjutnya, Yupz…di halte. Seorang Bus, eh sebuah bus sedang menunggu Chef untuk menaikinya. Sungguh merupakan kehormatan bagi bus, apalagi sang supir melihat sang Chef menaiki bus mereka.*tothepointajachef/. Pas menaiki bus, aku melihat seorang wanita memakai pakaian yang hampir sama denganku, dengan warna yang juga sama, mulai dari atas sampai bawah, perfect! Bahkan jika di lihat sekilas, orang-orang akan mengira aku dan wanita itu adalah kembar. Hem..bisa kalian tebak dia siapa. Sang KAKAK!!. Kenapa harus kebetulan sama, di bus yang sama, dengan fashion yang sama pula. Aku pun menanyakannya “ada agenda apa?” “rapat proker kalian. Aku ‘kan pengurus DPM” jawabnya. Oh my god! Aku baru menyadari bahwa dia salah satu anggota di DPM. Tak terkejut diriku dengan hal ini kedua kalinya. Yang ku khawatirkan adalah apa tanggapan orang-orang yang ada disana jikalau melihatku dengannya berjalan berduaan. Pasti mikirnya gini “cie…kakak adik jalan bareng” , “wuich, janjian niyee,,bajunya sama” , “janjian telat nich..kompak banget sekeluarga”, atau gini “si kembar datang..si kembar datang…”.  Itu tuh..yang sering ngegodain. Padahal menurutku ga mirip kok. SAMA SEKALI TIDAK KEMBAR. Kami Cuma beda satu tahun. INGAT! SATU TAHUN!. Fiuh…kenapa ayah menyuruhku kuliah di padang dulunya yah…???.
Sesampainya di lokasi, jangan Tanya lagi! Kalimat-kalimat yang baru saja ku paparkan sebelumnya langsung teraplikasikan. SUKSES! Mudah-mudahan aku dapat Nobel karena risetku meramalkan pikiran orang berhasil. Yes!! L
Dengan wajah setengah merah setengah pucat, aku dan kakakku duduk dengan masing-masing tempat. Di sebelah kiri pengurus BEM, di sebelah kanan pengurus DPM. Kami berpencar.
Fiuh..baru saja mulai. Proker yang sedang bahas itu baru Kestari. Aku masih bisa sedikit tenang. Karena rute pembahasan Kestari dengan bidang Eksternal masih berlangsung lama.
Semenit kemudian, sepuluh menit kemudian, lima belas menit kemudian, setengah jam kemudian, sejam kemudian, daaannn…..teng..teng…!!! waktu habis. Saatnya membahas proker bidang lain. Tapi ada sedikit masalah. dua bidang yang memiliki masing-masing proker mulai kucar-kacir. Bawaannya ga tenang, seakan sedang di kejar masalah atau di kejar anjing. Fiuh..aku harap tidak di kejar kedua-duanya. Tapi mereka memang mengadapi kesulitan yang amat mendesak. Entah apa, aku juga ga’ ngerti. Tapi yang jelas mereka seperti sedang kepanasan. Oh..bukan chef, salah ente. Yang bener itu mereka bergulat memperebutkan pembahasan prokernya di percepat. Atau kalau boleh bidang mereka di dahulukan terlebih-lebih, di sebabkan alasan yang ku pikir amat logis. *Agenda mingguan/. Tapi tidak tau kalau bidang yang satunya lagi. Mereka berdebat untuk memperebutkan pembahasan prokernya didahulukan. Aku baru mulai sadar kalau aku juga sedang tergesa-gesa. Perutku mulai mules lagi. Padahal selembarpun belum ada noda yang tertera di kertas putihku. Oh god..!! mudah-mudahan jari-jariku bisa membalap secepat Valentino Rossi. Ngomong-ngomong bagaimana kabar beliau yah??. Aku sudah lama tidak menyaksikan acaranya di F1. Maklumi saja kondisi para anak kost, memiliki kasur dan meja belajar yang aku pikir itu lebih dari cukup.
Sejam kemudian berlangsung, teng..teng…akhirnya pembahasan proker kami.*bidang Eksternal maksudnya/. Aku mulai menutup laptopku, karena dari tadi aku juga sibuk berkolaborasi suara dengan keyboard laptopku. Opz, ku akui aku menulis kisahku ini di lokasi, yah….kondisi yang sedang berlangsung. Mudah-mudahan para pengurus BEM ataupun DPM, apalagi kakakku tidak membaca entri ku ini, karena Ini adalah kisah nyataku di pagi buta, di siang yang sengat, di sore yang mendung, di malam yang dingin.
Satu persatu di bahas proker kami oleh sang DPM. Kesalahan demi kesalahan di komentari. Inilah resiko kenapa Gubernur dan wakil gubernur dulu mewancarai aku ketika OR (Open Requitment) dan menanyakan dimana keinginanku di tempatkan nanti. Ketika ku sebutkan PSDM, tetapi kenyataannya di Eksternal. Iya juga sich salah Chef sendiri ketika di tanya “Bila fara di tempatkan di bidang lain, apakah bersedia?” dengan gagah dan yakinnya aku menjawab “SIAP!!”. Nah..inilah hasil ucapanku enam bulan yang lalu. Aku pikir aku lebih baik di bidang INFO untuk kepengurusan tahun depan, karena melihat hobiku yang suka tulis-menulis, ku pikir karya ku bakalan di baca di madding BEM. *mungkin/.
Yah…ini baru setengah hari. aku belum mengisahkan 6 jam berikutnya . aku hanya berharap yang membaca ini bukanlah orang yang bersangkutan. Kalaupun iya, anggap saja kalian tidak mengenaliku. Itu lebih dari cukup untuk menyelamatkanku.

3 komentar: